Cerpen: Lika-liku Lika & Liku (Ep.2)
“Drr… Drr…” ponsel Liku bergetar. Liku buru-buru mengambil ponselnya dari kantong celana jeansnya. Balasan dari Lika tentu saja.
“Di cafe aja, kamu selesai kerja jam berapa?”
Kemudian singkatnya Liku mengiyakan untuk bertemu dengan Lika nanti sore. Kebetulan, hari ini Liku kebagian shift siang, yang artinya sore nanti ia punya waktu luang untuk bertemu Lika. Sepanjang kelas tentu saja ia tidak konsen akibat terus memikirkan mengapa Lika mau bertemu dengannya? “Apakah ini kencan?” pikirnya lugu dalam hati. Hadeh, Liku… Liku…
Waktu berlalu, hari sudah sore dan shiftnya di cafe sudah hampir selesai. Sembari beberes dan melepaskan celemeknya, lonceng pintu masuk tiba-tiba berbunyi. Lika datang. Liku seketika kikuk dan tidak tahu mesti apa. Lika tentu saja datang dengan terlihat begitu cantik dan memesona. Lika melirik-lirik mencari Liku yang sedang beberes di balik meja kasir.
“Liku? Hai, sudah selesai?” ucap Lika yang sedikit mengaggetkan Liku.
“Eh Lika, ya nih sudah kok, duduk saja dulu.” balas Liku rikuh.
“Oh, oke.” pungkas Lika dengan senyum kemudian bergegas duduk.
“Eh, mau pesan apa? Kayak kemarin?” tanya Liku.
“Boleh.” balas Lika.
Liku kemudian membuat pesanan Lika dan duduk di hadapan Lika sembari menyerahkan es kopinya. Lika tersenyum berterima kasih dan kemudian mulai menjelaskan maksudnya.
“Jadi gini, aku kebetulan banget butuh pemain musik untuk pentas di kampus dua minggu lagi. Kamu masih main gitar kan?” tanya Lika kemudian meminum es kopinya.
“Iya sih… tapi kok…” ucap Liku bingung.
“Hehe, iya, jadi gini…” sambung Lika “Aku emang lagi nyari gitaris buat tampil di festival puisi dua minggu lagi, nah karena kemarin kita ketemu, jadi inget dulu kamu suka main gitar kan pas SMP?”
“Oh, hehe… iya sih, tapi…” jawab Liku ragu.
“Mau dong ya, pleaseee…” pinta Lika memotong Liku.
“Hmm… Oke deh.” jawab Liku sembari menghela napas.
“Yey… thank you Liku! Jadi acaranya tuh…” begitu kemudian Lika menjelaskan detil acaranya pada Liku.
Sepanjang dua minggu tersebut Liku menjadi sedikit lebih aktif karena harus beberapa kali berlatih bersama yang lain guna mempersiapkan acara tersebut. Tentunya, waktu-waktu Liku bersama Lika juga menjadi lebih banyak, terlebih karena Lika sebagai ketua acara festival tersebut, dan satu-satunya orang yang Liku kenal di sana. Lika dan Liku kini terlihat sedikit lebih akrab. Memang, Liku tidak membuang kesempatannya dengan sia-sia.
Singkat cerita, tibalah di hari ketika Liku harus tampil. Tak perlu ditanya, tentu saja ia gugup. Duduk bersama gitarnya di panggung adalah hal yang sudah lama ia tak lakukan. Sejak SMA, ia tak pernah lagi mau tampil bermain gitar entah mengapa, padahal, skill-nya boleh dibilang lumayan oke, kok. Kegugupan Liku terpecah saat ia memandang Lika dari antara silaunya lampu panggung. Menurut Liku, Lika terlihat tersenyum antusias menunggu penampilannya. Kemudian, Liku mulai memetikan dawai-dawai gitarnya, merangkulnya menjadi nada-nada yang padu. Penampilan yang sangat baik, dan tentu saja diakhiri dengan banyak tepuk tangan.
“Liku, thanks ya, lo keren banget tadi.” ucap Lika sedikit mengagetkan Liku.
Liku yang canggung bukan main tidak dapat menyembunyikan senyum-senyum salah tingkahnya. “Ah, thanks juga, Lika, hehe.” tutup Liku kikuk.
Pucuk dicinta, ulampun tiba. Kegiatan itu akhirnya membuka kesempatan Liku untuk makin mengakrabkan diri pada Lika, dan tentu saja mereka menjadi makin akrab. Dari obrolan mereka, ternyata mereka memiliki banyak kesamaan di beberapa hal, musik, film, dan hal-hal lainnya. Kendati berbeda jurusan, Liku dan Lika kini berteman cukup karib. Bahkan, Liku kini mulai membuka diri dan turut serta di beberapa kegiatan lain, lho. Alasannya? Tentu saja, karena diajak Lika.
Sekian waktu berlalu, kekaguman Liku pada Lika semakin menggunung. Cita-citanya untuk berteman dengan Lika sudah tercapai, bahkan kini sudah menjadi cukup akrab; Lika lebih sering mampir ke kedai tempat Liku bekerja, Liku lebih aktif ikut kegiatan, dll. Namun, batas antara rasa suka dan sayang kini mulai hambur di hati Liku. Liku kini menyukai Lika ‘in that way’. Mungkin kata yang lebih tepat adalah sayang. Liku baper.
Sebagai orang yang penuh perhitungan, tentu saja Liku tidak serta-merta mengungkapkan isi hatinya begitu saja. Pertanyaan besarnya adalah, apakah Lika juga memiliki perasaan yang sama? Tentu saja ia juga sadar peluangnya kecil. Apalagi, Lika yang memang supel dan mudah bergaul membuatnya sulit membaca isi hati Lika. Namun ia tetap berusaha untuk mengekspresikan perasaan hatinya pada Lika. Ya, walaupun untuk orang-orang pemalu seperti Liku, tentu saja ia mendekati Lika dengan sangat terukur dan berhati-hati, atau dalam kata lain: cupu.
Liku terlalu memperhitungkan perasaan. Perasaan itu sulit dicerna logika, perasaan itu untuk dirasa, dinikmati. Tetapi, Liku tidak mau mengacaukan ini, ini kesempatan satu-satunya yang tak pernah ia bayangkan akan ia dapatkan. ‘Biar lambat asal selamat,’ begitu prinsip Liku. Akan tetapi, setiap kali ia dan Lika bercakap, bersenda gurau dan berbagi tawa, ia makin luluh. Kepalanya mulai meluruh terkikis perasaan di hatinya. Ia tak sanggup lagi, Liku bertekad untuk menyatakan perasaannya pada Lika. ‘Lagipula, ia terlihat nyaman setiap kami berbicara,’ begitu ujar Liku dalam hatinya membulatkan tekadnya untuk bicara dengan Lika.
Suatu sore sepulang kuliah, seperti biasa Lika mampir ke kedai tempat Liku bekerja untuk membeli es kopi kesukaannya. Kemudian biasanya mereka akan berjalan pulang bersama seusai jam kerja Liku selesai, kebetulan arah menuju tempat parkir Lika dan tempat kos Liku searah. Sembari menikmati es kopinya, Lika menyelesaikan beberapa pekerjaan di laptopnya, sementara Liku juga sibuk dengan pekerjaanya. Setengah jam berlalu dan kini waktu sudah menunjukan pukul enam, kemudian keduanya beberes dan bersiap pulang.
Sore itu langit cukup berawan dan mulai membiru dengan sedikit sisa-sisa sinar matahari yang mulai tenggelam. Dedaunan sesekali bergersik tertiup angin yang mulai terasa dingin menjelang malam. Dengan berselempang tas dan kedua tangan bersembunyi di kantong jaketnya, Liku berjalan di samping Lika. Sesekali terdengar mereka bercanda dan tertawa cukup seru. Liku sangat menikmati tiap detik dari lima menit perjalanannya ini. Liku rasanya tak ingin sampai, ia selalu berusaha berjalan selambat mungkin agar momen berduanya tak cepat usai.
Masih ada beberapa langkah lagi sebelum mereka sampai di tempat parkir Lika, tempat mereka biasa berpisah dan Liku melanjutkan sedikit lagi perjalanan ke kamar kosnya. Pembicaraan mereka sudah hampir habis seiring dengan hampir sampainya mereka ke tempat parkir, sementara Lika mulai merogoh tasnya untuk mengambil kunci mobilnya. Dengan tangan masih bersembunyi di saku jaketnya, Liku seketika memecah hening.
“Lika, I think I like you.”